Unordered List

Santri-Santri Mbeling Polorejo

 on Jumat, 27 April 2012  


Pada tahun 1854 Raden Adipati Mertohadinegoro meninggal dunia dan dimakamkan di pemakaman Tajug, + 4 km, arah timur kota Ponorogo menuju Kec. Pulung. Di tahun itu juga jabatan bupati di percayakan kepada Raden Mas Tumenggung Cokronegoro I yang memerintah Kabupaten Ponorogo selama tahun 1854 sampai dengan 1856. Ketika masa pemerintahan Cokronegoro ini di dukuh Bedi Desa Polorejo sudah berdiri sebuah Pondok Pesantren Bedi sesuai dengan nama letak pesantren itu. Konon santri nya banyak mencapai ratusan santri jumlahnya, dan menurut ukuran penduduk diwaktu itu jumlah ratusan santri itu sudah cukup terkenal. Para santri itu berdatangan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, kebanyakan para santri yang datang ke pesantren ini untuk menghafal “Al-Qur’an”  ka rena memang Mbah Ibrahim adalah Kyai yang hafal Qur’ an dan menguasai betul tentang penulisan, bacaan dan kandungan tafsir ayat-ayat Al-Qur’an.
Santri-santri Pondok Pesantren Bedi sangat terkenal dengan sifat brawokan dan pemberani, pada suatu hari K. Ibrahim menyuruh mereka mengikuti kerja bakti (ro’an.jw) memotong bambu di dukuh Bakalan, arah barat utara Bedi + 1,5 km. dimana pohon bambu itu akan di gunakan untuk pembangunan pondok. Setelah selesai memotong pohon-pohon bambu itu mereka mengusungnya dengan jalan kaki dari Bakalan menuju Bedi melewati jalan arah Ponorogo Magetan. Di sepanjang jalan ratusan santri yang memikul pohon-pohon bambu itu sama berteriak-teriak sesuka hatinya, dan tidak jarang mereka itu ada yang cara memikul batang bambu dengan di palangkan (dipikul malang-jw) di jalanan, sehingga sangat mengganggu orang yang sama le wat di jalan itu(2).


 
(2) – Sumber informasi dari  K. Agus Damanhuri  cucu Mbah Ibrahim
Kebetulan saat itu pula Adipati Ponorogo R.M.T Cokrone goro lewat jalan yang di lalui para santri pemikul batang-batang bambu itu, ketika itu pula perjalanannya untuk me lakukan inspeksi ke daerah Ponorogo Utara bersama keluarga merasa sangat terganggu. Lalu Adipati menghentikan kereta bendinya, kemudian bertanya kepada para pemuda yang ugal-ugalan dan mbeling itu, namun para santri tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan Adipati bahkan mere ka malah mengolok-olok dan menggojloknya. Tetapi perbuatan para santri ini memang tidak di sadari kalau yang di hadapi itu adalah Adipati Cokronegoro, sama sekali para santri itu tidak kenal dan tidak mengerti bahwa yang di olok-olok dan di gojlok adalah orang yang paling berkuasa di tlatah Ponorogo.
Setelah peristiwa itu berlalu, sepekan kemudian K. Ibrahim  di timbali untuk menghadap kanjeng Raden Mas Tumenggung Cokronegoro, untuk di mintai keterangan perihal sikap para santrinya terhadap dirinya yang di olok- olok dalam perjalanannya ke wilayah Ponorogo Utara.
K. Ibrahim adalah sosok kyai yang sabar, arif dan wira’i, dengan serta merta memintakan permohonan maaf atas perilaku para santrinya yang terkesan mbeling dan kurang ajar itu. Setelah agak lama berbincang-bincang  antara keduanya, dan saling mengerti siapa sebenarnya K. Ibra him dan siapa pula R.M.T Cokronegoro, maka tidak ada sangsi yang di jatuhkan kepada para santrinya K. Ibrahim. Cokronegoro adalah putra dari Kanjeng Kyai Hasan Besa ri Tegalsari, beliau adalah Adipati Tumenggung yang muslim ayah dari Cokroamiseno kakaknya HOS Cokroaminoto(3).  K. Ibrahim keluar dari dalem kabupaten dan pulang dengan hati yang lega, karena ternyata kanjeng adipati berhati murah dan mudah mengampuni.

 

(3) – Majalah Pustaka ITB No. 6 Juli 1978.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

>>> Please do not use anonymous ....
>>> Berikan data anda dengan benar.....
>>> Berikan komentar anda sebagai bukti bahwa anda adalah pengunjung dan bukan robot......
>>> Komentar ANONIM tidak akan ditanggapai oleh admin......
>>> Sorry, Admin will not respond to anonymous comments are not clear. so thank you

Diberdayakan oleh Blogger.
J-Theme