Unordered List

Peperangan Brotonegoro Melawan Belanda

 on Jumat, 27 April 2012  

Pada tahun 1825 ketika terjadi perang Diponegoro melawan Belanda, Pangeran Diponegoro beserta bala tentaranya memasuki wilayah kabupaten Ponorogo, dari wilayah kabupaten Pacitan, dan istirahat di kabupaten Polore jo yang ketika itu bupatinya tumenggung Brotonegoro. Setelah bala tentara Pangeran Diponegoro istirahat beberapa waktu lamanya di Polorejo, mereka lalu berangkat lagi ke arah barat menuju Jawa Tengah melalui Somoroto dan Badegan kemudian Purwantoro kembali ke Yogjakarta.
Setelah Polorejo di tinggalkan bala tentara Pangeran Diponegoro, Belanda memasuki wilayah kabupaten Polorejo dengan persenjataan lengkap dan menyerbu, tetapi ketika itu Brotonegoro sudah ada antisipasi sebelumnya, mesti nanti sepeninggalnya tentara Diponegoro dari Polorejo Be landa pasti menyerbu kabupaten Polorejo. Dan betullah antisipasi Brotonegoro itu, sebelum di serbu Brotonegoro sudah menyiapkan para prajurit dengan persenjataan lengkap dan persiapan mental dan phisik yang mantap menghadapi serangan Belanda.
Sebelum belanda datang di wilayah wewengkon kabupaten Polorejo, tumenggung Brotonegoro sudah mendapatkan informasi tentang dari arah mana bala tentara belanda akan menyerang Polorejo. Informasi dari teliksandi tumenggung itu menerangkan bahwa belanda akan memasuki  dan menyerang dari arah utara barat yaitu daerah Magetan, oleh karena itu tumenggung membuat calon ( bakal ), pesanggrahan di sebelah barat daya kabupaten Polorejo + 
2,5 Km, pesanggrahan itu terbuat dari bambu yang di bentuk menara yang tinggi di gunakan untuk mengintai keda tangan musuh. Dan kemudian tempat untuk membuat calon / bakal pesanggrahan itu di abadikan sebagai sebuah Dukuh  yaitu  Bakalan  masuk  wewengkon  Polorejo. Ada pun pesanggrahan yang dibuat oleh para prajurit Brotonegoro itu letaknya lurus di utara masjid Bakalan sekarang + 500 m. Tidaklah sia-sia persiapan Brotonegoro untuk membuat pesanggrahan itu, dan betul-betul bermanfa’at untuk mengintai kedatangan belanda, karena ketinggian menara pesanggrahan itu 2 x setinggi pohon bambu (rong uder.jw) dan sekaligus sebagai pusat komando perang.
Perang Brotonegoro melawan belanda sudah tidak bisa dihindari lagi dan betul-betul terjadi pada tahun 1825, medan pertempuran berada di sebelah barad daya pesanggrahan, ketika tumenggung Brotonegoro menjemput keda tangan belanda diikuti oleh banyak prajurit, dan sebagai tanda belanda sudah datang seorang prajurit di perintahkan memukul gong yang disebut demung, sekaligus itu sebagai aba-aba perang. Disaat belanda datang prajurit pemukul gong demung, memukul gong itu terus menerus hingga kuda yang ditunggangi Brotonegoro lari melesat secepat kilat ndigar-ndigar menjemput musuh, dan tumenggung tam pak gagah berani sebagai komandan perang.
Peperangan terjadi hingga waktu sore menjelang malam, hingga sangat sulit untuk melihat lawan dan belanda pun mundur, prajurit Brotonegoro banyak yang menyebar kocar-kacir di berbagai penjuru arah. Namun tumenggung sudah kembali lagi ke pesanggrahan diikuti oleh sebagian prajurit, waktu sudah betul-betul malam banyak prajurit yang kebingungan untuk kembali ke pesanggrahan, karena memang daerah medan peperangan itu saat itu masih berupa hutan belantara. Saat prajurit itu kebingungan mencari pesanggrahan  tiba-tiba  saat  itu ada seorang prajurit yang melihan lampu yang  kerlip-kerlip (kelip-kelip.jw) tidak jauh dari tempat prajurit itu berdiri yaitu di arah sebelah ba rat lurus, kemudian mereka sama mengatakan yang kelip- kelip di atas itu pasti lampu pesanggrahannya ndoro Broto negoro, ternyata betul, setelah mereka berjalan menuju ke arah lampu itu ketemu dengan prajurit-prajurit lainnya dan mereka dapat berkumpul kembali. Kemudian tempat prajurit memukul gong demung tadi dinamakan Demung masuk desa Sukosari, tempat ndigar-ndigar kudanya Brotonegoro di namakan Tegari, sekarang berupa sawah masuk wilayah Polorejo, dan tempat prajurit mengatakan “kelip-kelip”nya lampu pesanggrahan itu dinamakan “Sekelip” masuk wilayah Polorejo, bekas (petilasan) pesanggrahan Brotonegoro dinamakan “Tilasan” dulu ada gerumbulnya dinamakan ge rumbul tilasan sekarang berupa persawahan.
Pada tanggal 15 Nopember 1825 pertahanan kabupaten Madiun yang setia kepada Pangeran Diponegoro di pu satkan di selatan kota Ngawi, namun para pasukan yang berada dalam pertahanan ini mendapat gempuran yang hebat dari pasukan Belanda. Dari sebelah utara di gempur oleh pasukan belanda yang di pimpin oleh Theunissen, dari barat di serang pasukan belanda yang di pimpin oleh Letnan Vlikken  Sohild dengan ratusan prajurit Jogorogo Surakarta pro belanda. Akhirnya pasukan Madiun yang setia kepa da Diponegoro menjadi kocar kacir dan Ngawi jatuh ketangan Belanda. Pada waktu itu pertahanan Diponegoro di  Madiun  sektor Selatan di tempatkan di daerah Kabupaten Pacitan dengan panglima daerah di bawah pimpinan Bupati Mas Tumenggung Djojokaridjo, Mas Tumenggung Djimat dan Ahmad Taris, namun karena kuatnya pasukan Belanda pada akhir Agustus 1825 Pacitan dapat di kuasai pasukan Belanda.
Dengan berhasilnya Belanda melumpuhkan pasukan Diponegoro di Madiun pertahanan sektor Selatan dan sek tor Utara  (Ngawi),  maka wilayah Madiun secara keseluru
han sudah jatuh ke tangan Belanda dan Brotonegoro Bupa ti Polorejo yang menjadi benteng pertahanan kota Ponoro go Utara pun di obrak-abrik oleh Belanda. Brotonegoro se orang Bupati yang gagah berani itu tetap menghadang pasukan Belanda dari arah kota Madiun dan Gorang-gareng Magetan. Karena pasukan dan persenjataan yang tidak seimbang, maka pasukan Brotonegoro banyak yang tewas, dan pertempuran menjadi tidak seimbang, karena semakin sedikitnya pasukan Brotonegoro, maka Pekatiknya dengan sigap meloncat naik kepunggung kudanya Brotonegoro lalu menarik kendali kuda itu dan mencambuk-cambuknya hingga kuda lari melesat cepat menuju arah Barat Laut.
Melihat Brotonegoro keluar dari medan pertempuran dan memacu kudanya sangat cepat, maka Belandapun me ngejarnya hingga Brotonegoro naik puncak gunung Gombak (Nglarangan) Kauman Somoroto. Gunung kecil itu di atasnya tidak berpenduduk hingga Belanda sangat mudah untuk mengepung bukit itu dari bawah. Ketika Belanda da pat mengepung perbukitan itu, tidak boleh seorangpun pen duduk pribumi yang naik ke atas bukit itu hingga waktu yang sangat lama, sehingga karena tidak ada makanan dan minuman setelah bertahan sekian bulan lamanya akhirnya sang Bupati Brotonegoro menemui ajalnya. Yang kemudian bukit itu dinamakan Bukit Larangan, karena adanya larangan dari Belanda selama Brotonegoro diatas bukit itu ti dak boleh ada orang yang naik keatasnya. Dan akhirnya oleh Belanda jenazah Brotonegoro dimakamkan diatas bukit itu dengan pemakaman secara Islam, bersama kuda dan pekathiknya di makamkan disitu juga. Kemudian bekas medan pertempuran Brotonegoro melawan Belanda di Po norogo Utara itu dinamakan Petilasan dari kata Tilas (jw).
Kata Tilas mendapat ater-ater Pe dan penambang  an  hingga menjadi “Petilasan”, kemudian membuang ater-ater Pe menetapkan penambang maka menjadi “Tilasan”. Dimana  lokasi  ini  terletak  + 7,5 km arah utara  dari kota.
Setelah Brotonegoro wafat dalam medan pertempu ran dengan cara yang sangat tidak manusiawi  oleh perla kuan Belanda, maka yang menggantikan kedudukan  Bupa ti Polorejo adalah Brotowiryo sekitar tahun 1825 s/d 1829 ia adalah adik kandung Brotonegoro, dan menjadi bupati Polorejo tidak lama hanya dalam kurun tiga tahunan sudah meninggal dunia. Kemudian digantikan oleh putra menan tunya yang bernama Mertomenggolo tahun 1829 sampai dengan tahun 1834.
Pada waktu pemerintahan Mertomenggolo inilah lumbung padi Brotonegoro bupati Polorejo pertama di pin dahkan ke Cokromenggalan ke Pondok Pesantrennya KH. Ghozali untuk di jadikan Masjid sekitar th. 1830. Merto menggolo tidak lama menjadi Bupati Polorejo sekitar lima tahunan, dan di gantikan oleh Raden Tumenggung Wiryo negoro putra Raden Tumenggung Brotowiryo tahun 1834 sampai dengan tahun 1837, dan di tahun inilah R.T Wiryo negoro meninggal dunia dan di makamkan di makam kelu arga Raden Betoro Katong di Setono. Dan dengan demiki an Kabupaten Polorejo sudah runtuh dan di hanguskan  oleh pemerintahan Belanda bersamaan dengan Kabupaten Ponorogo Timur (Setono/Kota Lama)-(1). Kemudian seki tar tahun 1849 Ibrahim bin KH. Ghozali memulai babad di Polorejo di tanah hadiah dari Brotonegoro, yaitu di Bedi sekaligus babad dakwah Islam dengan mendirikan pondok pesantren. Ketika itu Ponorogo di bawah pemerintahan  bupati Raden Adipati Mertohadinegoro yang menjadi Bu pati Ponorogo selama tahun 1837 sampai dengan 1854. Pa da tgl. 5-2-1843 beliau mendirikan masjid Kauman Kota Ponorogo barat alun-alun bertepatan dengan tgl. 5 - Muha ram – 1259 H hari Sabtu Pahing.
(1)Sumber data di peroleh dari cerita Mbah Selan, sesepuh lingkungan Dukuh Ndalem Polorejo.  Beliau pernah menjadi Dan Co Jepang  th. 1943 – 1945.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

>>> Please do not use anonymous ....
>>> Berikan data anda dengan benar.....
>>> Berikan komentar anda sebagai bukti bahwa anda adalah pengunjung dan bukan robot......
>>> Komentar ANONIM tidak akan ditanggapai oleh admin......
>>> Sorry, Admin will not respond to anonymous comments are not clear. so thank you

Diberdayakan oleh Blogger.
J-Theme