Unordered List

Hadiyah dari seorang Tumenggung Polorejo

 on Jumat, 27 April 2012  


Ketika Tumenggung Brotonegoro memenuhi pang gilan rajanya berangkat dari Polorejo bersama-sama para prajurit dan utusan menuju Solo, dalam perjalan tidak mendapati gangguan apapun dan selamat sampai di keraton.
Kemudian Tumenggung bersama utusan memasuki keraton menghadap Raja, sesampainya di hadapan raja ti dak ada tutur kata yang mengancam keselamatannya dari rajanya, bahkan hanya membicarakan tentang keadaan keamanan ka temenggungan, dan kesejahteraan penduduk Ka bupaten Polorejo dan tidak ada yang lain. Menjadi legalah hati sang tumenggung setelah sekian waktu di hadapan ra ja di terima dengan baik dan tidak ada tanda-tanda untuk di rangket (di tangkap) untuk di penjarakan.
Setelah selesai pisowanan (menghadap) raja, Brotonegoro pulang kembali ke Kabupaten Polorejo dengan sela mat, dan sesampainya di dalem Kabupaten terus istirahat untuk melepas lelah dan bersyukur kepada Tuhan bahwa dirinya terlepas dari fitnah yang mengancamnya dengan hukuman penjara. Kemudian karena itu lalu beberapa hari kemudian tumenggung Brotonegoro mengumpulkan istri dan anak putrinya yang menjanda itu untuk di nikahkan de ngan K. Ghozali sebagai hadiah atas bantuannya dalam pe nyelematan beliau dari ancaman raja Solo. Lalu terjadilah pernikahan itu atas persetujuan kedua belah pihak yaitu anak putri Brotonegoro yang janda dengan K. Ghozali.
Disamping K. Ghozali diberi hadiyah anak putri se orang tumenggung, juga di hadiyahi sebuah lumbung tem pat penyimpanan padi, yang mana bangunan lumbung itu bahan-bahannya dibuat dari kayu-kayu jati. Dan selanjut nya lumbung itu diboyong ke Cokromenggalan, oleh K. Ghozali di jadikan Masjid, peristiwa itu terjadi pada tahun 1830, sampai sekarang bangunan Masjid dari lumbungnya  tumenggung Brotonegoro itu masih baik, ketika diadakan pemugaran tahun 2007, terjadi keajaiban yang luar biasa, banyak tukang kayu yang tidak mampu mencopot (mele pas) empat tiyang (cagak-jw.) masjid itu. Karena tidak bi sa dilepas, maka para tukang dan warga jama’ah bersepa kat tiyang itu lebih baik dipindahkan saja dari tempatnya, sebab program pemugaran itu nanti cagak masjid akan diganti dengan cagak cor beton, layaknya bangunan model zaman sekarang. Ketika sudah di sepakati, maka tukang de ngan warga yang jumlahnya ketika itu lebih dari delapan puluh  orang  ramai-ramai  membedol  cagak  empat itu dengan cara di pikul bersama-sama, namun usaha itu sia-sia belaka dan tidak berhasil, cagak tetap berdiri kokoh di tempatnya. Kemudian warga jama’ah dan para tukang berem bug lagi, bagaimana caranya agar empat tiyang masjid itu bisa di copot ( diotha’i-jw) atau di pindahkan dari tempat nya. Lalu mereka utusan seseorang untuk menemui K. Adnan yang masih cucu buyutnya K. Ghozali, yang ketika itu sedang ada suatu keperluan, yang sebagaimana biasa beli au sering di undang pada suatu hajatan warga masyarakat untuk memberikan do’a atau mau’idlah hasanah (ceramah) di suatu tempat di luar desanya, sekalipun sebenarnya Kya inya masjid K. Ghozali Cokromenggalan itu adalah juga K. Adnan. Setelah utusan itu ketemu dan menyampaikan keja dian yang terjadi mengenai cagak masjid yang tidak dapat di copot dan tidak pula bisa di pindahkan, maka K. Adnan serampungnya pada acara hajatan itu langsung pulang menuju Masjid. Dan sesampainya di masjid banyak orang me nyampaikan kejadian itu kepadanya, lalu beliau mengajak para tukang kayu itu dan warga jama’ah duduk melingkari empat tiyang masjid itu dengan menghadiyahkan do’a ke pada K. Ghozali, setelah selesai berdo’a bersama-sama K. Adnan berdiri dan menepuk-nepuk empat tiyang masjid itu dengan telapak tangan kanannya, kemudian menyuruh para tukang dan warga jama’ah untuk memindahkan cagak empat itu bersama-sama ke calon tempat Imaman masjid baru tanpa melepas dari bentuk aslinya.
Akhirnya cagak empat beserta atap tengah masjid be kas lumbung sang tumenggung itu sampai sekarang masih di abadikan dan tetap utuh keadaannya sebagai imaman di masjid K. Ghozali yang sudah di renovasi tahun 2007 itu.
Hadiyah yang ketiga dari tumenggung Brotonegoro kepada K. Ghozali adalah sebidang tanah yang masih  berwujud hutan angker yang terletak di timur utaranya dalem katemenggungan +  1 km. Yang mana tanah itu setelah K. Ibrahim menamatkan belajarnya di Makah, oleh K. Ghozali kelak akan diberikan kepada Ibrahim putra pertama satu- satunya yang ilmunya sudah mumpuni. Karena tampaknya K. Ibrahim lebih bersikap tawadlu’ kepada ayahnya, dia enggan menggantikan ayahnya selama ayahnya masih hidup, begitulah jawaban K. Ibrahim ketika disuruh menggantikan ayahnya untuk mengasuh pesantren Cokromeng galan. Oleh karena itu, agar Ibrahim juga ikut berperan aktif dalam pengembangan dakwah agama Islam, K. Ghozali memberinya tanah hadiyah tumenggung Brotonegoro yang masih berupa hutan dan belum berpenduduk yang terletak di timur laut dalem katemenggungan itu kepada Ibrahim.
Setelah cukup perbekalan Ibrahim bersama istrinya berpamit kepada ayahnya untuk babat hutan dan menempa ti tanah yang baru, dan memang betul sebagaimana yang diceritakan banyak punggawa katemenggungan bahwa ta nah itu terkenal angker, ketika Ibrahim mulai menebangi semak-semak dan pepohonan banyak gangguan dari makh luq halus. Namun pekerjaan itu tetap di lakukan tanpa menyerah sedikitpun, dan ketika malam hari tiba gubuk yang di diami Ibrahim ketika babad hutan itu sering di ganggu oleh makhluq halus berbentuk manusia yang gimbal ram butnya, besar badannya dan hitam kelam kulit tubuhnya yang biasa disebut orang dengan nama Memedi. Akan te tapi Ibrahim tetap tegar menghadapi gangguan-gangguan itu, yang akhirnya dengan do’a-do’a yang di wiridkan, maka para makhluq halus yang berbentuk genderuwo, wewe dan memedi itu tunduk dan menyerah kalah, dan selanjut nya para makhluq halus itu oleh Ibrahim di tempatkan pa da sebuah pohon kayu di sekitar lokasi tanah babadannya. Sampai sekarang pohon dan tempat para makhluq halus itu tetap utuh tidak ada orang yang berani mengusiknya, dan pohon itu letaknya di timur lurung masuk masjid Bedi se belah tenggaranya masjid. Yang kemudian lingkungan ta nah babadan K. Ibrahim itu di namakan dengan nama Bedi  dari kata  Memedi dengan menghilangkan awalan me menjadi Medi yang akhirnya menjadi Mbedi, karena kata mbe di itu agak berat dalam pengucapan, maka menjadi Bedi. Sampai sekarang wilayah lingkungan yang di babad oleh K. Ibrahim ini di namakan Bedi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

>>> Please do not use anonymous ....
>>> Berikan data anda dengan benar.....
>>> Berikan komentar anda sebagai bukti bahwa anda adalah pengunjung dan bukan robot......
>>> Komentar ANONIM tidak akan ditanggapai oleh admin......
>>> Sorry, Admin will not respond to anonymous comments are not clear. so thank you

Diberdayakan oleh Blogger.
J-Theme